Jejak Sejarah Swedo House
Swedo House yang ikonik di kawasan Karen Blixen Coffee Garden and Cottages, Ltd. merupakan bangunan asli yang dulunya berfungsi sebagai pondok perburuan sekaligus rumah pertanian. Dibangun sekitar tahun 1906 hingga 1908, rumah ini terletak sekitar setengah mil dari Museum Karen Blixen (Bogani House), dan hanya 15 menit dari pusat kota Nairobi. Pada masa awalnya, rumah ini berdiri di tengah hutan alami yang lebat, terdiri dari semak dan padang rumput, yang kemudian dibuka dan dijadikan lahan pertanian—terutama untuk budidaya kopi—di awal abad ke-20.
Pada tahun 1904, Ewart Scott Grogan kembali ke Kenya. Rumah pertamanya hanyalah sebuah tenda yang didirikan di lokasi yang sekarang dikenal sebagai kompleks Chiromo, sebelum ia membangun Grogan Palace dan Grogan Lodge. Bangunan Grogan/MacMillan Manor House yang bersejarah ini akhirnya dipindahkan secara utuh—batu demi batu—dari Riverside Drive di pusat Nairobi ke area Coffee Garden pada tahun 2008, demi menyelamatkannya dari ancaman pembongkaran.
[Klik di sini untuk membaca kisah lengkap Grogan MacMillan Manor House]
Swedo House sendiri berakar dari inisiatif Aake Sorgren, Konsul Swedia di British East Africa hingga tahun 1913. Bersama Sir Northrup MacMillan, ia mendirikan Swedo-African Coffee Company. Dari rumah inilah bisnis kopi mereka beroperasi, sebelum akhirnya membangun Bogani House pada tahun 1912—yang kelak menjadi rumah terkenal dalam film Out of Africa dan kini menjadi Museum Karen Blixen.
Pada tahun 1913, Bror Blixen membeli perusahaan kopi tersebut untuk istrinya, Karen Blixen. Swedo House pun berperan sebagai pusat aktivitas perusahaan dan difungsikan sebagai rumah bagi manajer kebun kopi. Karen Blixen—yang dikenal dunia dengan nama pena Isak Dinesen—kerap menghabiskan waktunya di rumah ini. Bahkan, saudaranya Thomas Dinesen sempat tinggal di sana selama beberapa tahun.
Jika Bogani House dianggap sebagai representasi arsitektur kolonial generasi kedua, maka Swedo House mencerminkan gaya hunian kolonial generasi pertama. Rumah-rumah awal ini dibangun dengan struktur kayu yang ditopang tiang-tiang tinggi. Arsitekturnya khas dengan dinding luar dari seng bergelombang yang dilapisi kayu di bagian dalam, serta beranda berjajar lengkap dengan atap berlengkung. Di kemudian hari, dinding luar dimodifikasi dengan menambahkan plester semen di atas jaring kawat ayam sebagai pengganti seng. Kaca jendela berwarna-warni yang menghiasi ruang duduk depan masih asli dari masa lalu dan tetap dipertahankan hingga kini.
Kini, Swedo House telah diubah menjadi tempat bersantap yang unik—tersedia untuk sarapan pagi, makan siang, hingga teh sore. Tamu juga dapat menikmati suasana makan malam temaram ala Out of Africa di dekat perapian batu tua yang penuh sejarah.